Pernahkah Anda melihat Al Quran berukuran raksasa? Jika belum, Anda mungkin bisa singgah ke Solo, Jawa Tengah, yang memiliki sebuah Al Quran berukuran raksasa. Keunikan lain dari kitab suci umat Islam ini adalah bahannya terbuat dari kulit unta dan ditulis dengan tinta emas.
Al Quran terbesar berukuran panjang 1,5 meter dan lebar 2,5 meter itu tersimpan di Masjid Fatimah. Tak tanggung-tanggung, Al Quran ini tebalnya mencapai 20 centimeter dengan berat hampir 200 kilogram. Selain terbuat dari kulit unta, tulisannya pun dibuat dengan tulisan tangan dengan tinta emas. Bahkan, meski sudah berusia ratusan tahun, lembar demi lembar Al Quran ini masih terjaga dengan rapi.
Selama bulan Ramadan ini banyak masyarakat yang berkunjung ke masjid tersebut untuk melihat Al Quran ini secara langsung.
Selengkapnya...
Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts
Alquran Kuno Ini Bisa Sembuhkan Orang Kesurupan
JOMBANG- Alquran yang satu ini memang tergolong unik. Meski dibuat secara manual, Alquran ini sudah berusia hampir 81 tahun. Tidak hanya itu, ternyata isi Alquran itu tersebut ditulis tangan dari seorang ulama besar Almarhum KH Abdul Hamid Hasbullah.
Alquran dengan ukuran sekira 25 sentimeter X 20 sentimeter dan tebal 7 sentimeter itu kini tersimpan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang. Tepatnya di kediaman Rumah Almarhum adik kandung KH Wahab Hasbulloh ini (Pendiri Ponpes Bahrul Ulum).
Karena kondisi sudah tua, maka ada beberapa halaman yang dimakan rayap bahkan ada beberapa halaman yang hilang. Meski demikian, konon Alquran tulis tangan itu memiliki tuah dapat menyembuhkan orang kesurupan.
"Jika dulu di Tambak Beras ini ada orang kesurupan, maka Alquran ini didekatkan. Dengan seizin Allah Jin yang ada dalam tubuh itu langsung hilang," kata KH Fadlulloh Malik, salah satu Pengasuh Ponpes Tambak Beras, Senin (15/8/2011).
Pria yang akrab disapa Gus Fad itu menjelaskan, kertas yang digunakan untuk menulis Alquran ini mirip dengan kertas sak semen karena tebal. Jika dilihat dari bentuknya ini Alquran tersebut ditulis menggunakan tinta bak berwarna hitam.
"Tulisan tangan itu cukup rajin, tidak ada tinta yang meluber antara huruf satu dengan lainnya," jelasnya.
Sementara itu menurut KH Abdul Rojaq, Cucu Kiai Hamid, penulisan kitab suci ini upaya untuk merawat Alquran. Maklum saja di era tersebut tidak ada percetakan sehingga tulisan tangan menjadi pilihan.
"Mbah Hamid termasuk ulama zuhud, beliau sangat cinta Alquran. Jadi tulisan ini sebagai bentuk merawat kitab suci itu," terang pria yang akrab disapa Gus Rozaq ini.
Meski pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin peninggalan kakekanya itu, tapi ada beberapa bagian dari Alquran ini sudah rusak.
Seperti halaman depan atau sampul Alquran ini sudah terkoyak dimakan rayap. Tak hanya itu, ada beberapa bagian halaman yang sudah hilang. Seperti Juz 1 hanya tinggal tiga halaman saja, selebihnya masih lengkap.
Gus Rozak mengaku tidak tahu persis tepatnya Alquran ini ditulis oleh Kiai Hamid. Mereka menduga Alquran itu ditulis antara 1920 hingga 1930. "Kalau tahun pastinya tidak ada yang tahu. Kami memperkirakan Alquran itu ditulis pada 1930," timpal Gus Fad.
Selengkapnya...
Alquran dengan ukuran sekira 25 sentimeter X 20 sentimeter dan tebal 7 sentimeter itu kini tersimpan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang. Tepatnya di kediaman Rumah Almarhum adik kandung KH Wahab Hasbulloh ini (Pendiri Ponpes Bahrul Ulum).
Karena kondisi sudah tua, maka ada beberapa halaman yang dimakan rayap bahkan ada beberapa halaman yang hilang. Meski demikian, konon Alquran tulis tangan itu memiliki tuah dapat menyembuhkan orang kesurupan.
"Jika dulu di Tambak Beras ini ada orang kesurupan, maka Alquran ini didekatkan. Dengan seizin Allah Jin yang ada dalam tubuh itu langsung hilang," kata KH Fadlulloh Malik, salah satu Pengasuh Ponpes Tambak Beras, Senin (15/8/2011).
Pria yang akrab disapa Gus Fad itu menjelaskan, kertas yang digunakan untuk menulis Alquran ini mirip dengan kertas sak semen karena tebal. Jika dilihat dari bentuknya ini Alquran tersebut ditulis menggunakan tinta bak berwarna hitam.
"Tulisan tangan itu cukup rajin, tidak ada tinta yang meluber antara huruf satu dengan lainnya," jelasnya.
Sementara itu menurut KH Abdul Rojaq, Cucu Kiai Hamid, penulisan kitab suci ini upaya untuk merawat Alquran. Maklum saja di era tersebut tidak ada percetakan sehingga tulisan tangan menjadi pilihan.
"Mbah Hamid termasuk ulama zuhud, beliau sangat cinta Alquran. Jadi tulisan ini sebagai bentuk merawat kitab suci itu," terang pria yang akrab disapa Gus Rozaq ini.
Meski pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin peninggalan kakekanya itu, tapi ada beberapa bagian dari Alquran ini sudah rusak.
Seperti halaman depan atau sampul Alquran ini sudah terkoyak dimakan rayap. Tak hanya itu, ada beberapa bagian halaman yang sudah hilang. Seperti Juz 1 hanya tinggal tiga halaman saja, selebihnya masih lengkap.
Gus Rozak mengaku tidak tahu persis tepatnya Alquran ini ditulis oleh Kiai Hamid. Mereka menduga Alquran itu ditulis antara 1920 hingga 1930. "Kalau tahun pastinya tidak ada yang tahu. Kami memperkirakan Alquran itu ditulis pada 1930," timpal Gus Fad.
Selengkapnya...
Uang Membuat Orang Lupa Segalanya.
Setelah lolos dari hukum pancung di Arab Saudi, tenaga kerja wanita Darsem kini menjadi kaya raya. Wanita asal Kampung Terungtum, Desa Patimban, Pusakanagara, Subang, Jawa Barat, tersebut mendapat uang bantuan pemirsa salah satu televisi swasta sebesar Rp 1,2 miliar.
Uang yang didapatnya sebagian dibelikan perhiasan, telepon seluler, dan membeli rumah. Darsem juga memberikan sebagian uang untuk bantuan sosial di antaranya untuk masjid Rp 500 ribu dan orang jompo masing-masing Rp 20 ribu per orang. Darsem juga berencana mengkhitan anaknya pada September nanti.
Perubahan kehidupan Darsem tidak diimbangi dengan pemenuhan janji-janjinya. Keluarga Ruyati, TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi hanya dibantu Rp 20 juta jauh dari kewajaran. Masjid di kampungnya dibantu Rp 500 ribu dari janji Rp 10 juta. Santunan yatim dan jompo juga tidak merata.
Sejumlah tetangga mengatakan tingkah Darsem berubah setelah mendapatkan sumbangan dari pemirsa. Titin, salah satu teman sekolahnya mengatakan apabila Darsem berpapasan dengannya tidak pernah menyapa. Bisa dibilang sekarang sombong. "Padahal saya adalah teman sekolah dia dulu," kata Titin.
Darsem menanggapi dingin tudingan teman dan tetangganya. Ia membantah kalau berfoya-foya setelah menerima uang sumbangan. Saat ini uang yang ada di bank masih Rp 1 miliar yang nantinya akan digunakan untuk buka usaha. "Biar saja, semua omongan saya telan saja," kata Darsem.
Selengkapnya...
Uang yang didapatnya sebagian dibelikan perhiasan, telepon seluler, dan membeli rumah. Darsem juga memberikan sebagian uang untuk bantuan sosial di antaranya untuk masjid Rp 500 ribu dan orang jompo masing-masing Rp 20 ribu per orang. Darsem juga berencana mengkhitan anaknya pada September nanti.
Perubahan kehidupan Darsem tidak diimbangi dengan pemenuhan janji-janjinya. Keluarga Ruyati, TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi hanya dibantu Rp 20 juta jauh dari kewajaran. Masjid di kampungnya dibantu Rp 500 ribu dari janji Rp 10 juta. Santunan yatim dan jompo juga tidak merata.
Sejumlah tetangga mengatakan tingkah Darsem berubah setelah mendapatkan sumbangan dari pemirsa. Titin, salah satu teman sekolahnya mengatakan apabila Darsem berpapasan dengannya tidak pernah menyapa. Bisa dibilang sekarang sombong. "Padahal saya adalah teman sekolah dia dulu," kata Titin.
Darsem menanggapi dingin tudingan teman dan tetangganya. Ia membantah kalau berfoya-foya setelah menerima uang sumbangan. Saat ini uang yang ada di bank masih Rp 1 miliar yang nantinya akan digunakan untuk buka usaha. "Biar saja, semua omongan saya telan saja," kata Darsem.
This text will be replaced
Subscribe to:
Posts (Atom)








